Minggu, 03 Maret 2013

Tausiyah K.H. Hasan Abdullah Sahal

Setelah sekian lama tidak memiliki kesempatan mendengarkan tausiyah Ust. Hasan, Alhamdulillah sabtu pekan lalu kesempatan itu akhirnya datang juga di acara Silaturrhami keluarga besar IKPM Gontor cabang Yogyakarta. Beliau merasa berhutang untuk datang ke Yogyakarta setelah sekian banyak alumni datang mengunjungi beliau ke rumah beliau di area Pondok Tahfidz Al Muqoddasah, sehingga beliau merasa harus menunaikan hutangnya untuk mengunjungi keluarga besar IKPM Yogyakarta.

Acara dimulai menjelang pukul 14.00 siang, Hymne Oh Pondokku kembali aku nyanyikan setelah sekian tahun hanya mendengarkan melalui media player notebook ideapad Y430, hari itu aku kembali menyanyikan Hymne Oh Pondokku setelah sekian tahun hanya bisa mendengarkan dari media player di Ideapad Y430-ku.  Setelah sambutan dari tuan rumah dan ketua IKPM cabang Yogyakarta, ayahanda K.H. Hasan Abdullah Sahal memberi tausiyah.

Seperti biasanya, beliau tidak merubah gaya beliau saat memberikan tausiyah, mulai dari pembukaan dan intonasi suaranya, masih sama seperti saat dulu aku mendengarkan tausiyah beliau ketika masih di Gontor beberapa tahun silam. Beliau tidak ingin, di usianya yang sudah menginjak 60 tahun, beliau masih memiliki hutang, apalagi hutang silaturrahmi.

Jika matahari terbit, maka bulan purnama sudah tidak ada manfaatnya lagi. Ust. Hasan mengawali tausiyah siang itu dengan sebuah ungkapan ringan. Cukup lama aku berfikir keras dengan ungkapan beliau tersebut, kemudian beliau melanjutkan, " Saya datang ke Jogja, kemudian disini bertemu Ust. Imam Mudjiono dan teman-teman yang lainnya, jadi saya merasa lebih kecil dari mereka, ibaratnya saya itu Bulan Purnama, tapi begitu saya sampai di Jogja ada banyak Matahari yang sudah terbit". Subhanallah, begitu rendah hatinya beliau dihadapan para yuniornya. Tetap sederhana, tidak ada yang berubah. Beliau memperlihatkan persiapan tausiyah yang akan beliau sampaikan, namun beliau kemudian kembali menyimpan lembaran kertas tesebut, karena beliau merasa dihadapan beliau sudah banyak yang lebih tahu dan faham dari apa yang akan beliau sampaikan. "Kalau pidato saya ditulis, justru saya merasa itu bukan pidato saya, terasa aneh kalau saya pidato menggunakan teks". Beliau lebih enjoy jika berbicara tanpa teks.

"Kalau kita menendang bola, tapi bola tidak masuk ke gawang, yang harus dirubah itu gaya tendangan kita atau kita rubah posisi gawangnya?, Kalau kita main basket, kita melempar bola ke ring basket, kemudian bola gagal masuk ke ring basket, yang harus kita rubah cara kita melempar bola, atau kita rubah posisi ring basketnya?". Kembali beliau mengajak para audiens berfikir atas ungkapan yang beliau sampaikan. Sebenarnya aku sudah pernah mendengarkan ungkapan tersebut, karena ungkapan tersebut juga beliau lontarkan saat acara Kenduri Cinta bulan September kemarin di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. "Yang terjadi di Indonesia adalah, ketika kita gagal memasukkan bola ke dalam gawang, tapi yang dirubah adalah posisi gawangnya, bukan gaya kita dalam menendang bola, yang terjadi sekarang adalah memonopoli sistem yang ada, kalau tidak sesuai target, maka yang dirubah adalah undang-undangnya. Tapi kita harus tetap optimis dengan Indonesia, meskipun di Indonesia sekarang ini banyak orang yang tidak baik". Awesome!!!, perumpamaan yang digunakan beliau terhadap situasi Indonesia saat ini cukup simpel, namun dalam maknanya.

"Seumur hidup saya, saya sudah menginjak 5 benua, A-Z, alif ba ta tsa kehidupan saya sudah khatam, jadi buminya Goerge Bush itu sudah saya kencingi juga", seluruh audiens langsung tertawa. "Suatu hari, saya didatangi orang yang ingin mendirikan pondok pesantren, dia menceritakan bahwa sudah ada lahan wakaf, sudah disetujui leh pejabat setempat, bahkan ikut beserta rombongan POLRES, DANDIM dan pejabat lainnya, lalu saya sampaikan kepada dia, Pak, lahan wakaf, persetujuan pejabat itu nomor 3 pak, yang paling utama dalam mendirikan pondok adalah KEMAUAN, dan kemauan itu lahir setelah adanya KETERPANGGILAN, seperti halnya ibadah kita, Sholat, Zakat, derajatnya lebih mulia jika berdasarkan atas KETERPANGGILAN dari Allah swt, jika sudah ada keterpanggilan, maka akan muncul KEMAUAN, percuma kalian zakat kalau hanya melihat orang lain telah membayar zakat, Orang kaya bersedekah itu baik, tapi lebih baik lagi Orang Miskin bersedekah, bahkan bisa jadi lebih Mulia derajatnya dihadapan Allah swt". Panca Jiwa adalah salah satu ramuan mujarab maju tidaknya sebuah pondok. Kemudian beliau menceritakan, dulu beliau pernah dinasehati oleh Ayah beliau Alm. K.H Ahmad Sahal. " Le', nek koe mengko iso mbayar zakat, ojo mung 2,5%, tapi mbayaro 10% nek iso 20%, kalau kamu bisa berzakat, maka bayarlah zakat jangan hanya 2,5%, tapi 10%, bahkan kalau bisa 10%, sehingga Allah swt merasa berhutang kepadamu". Sejenak aku berfikir, benar juga, Allah sudah menjanjikan di Al Qur'an, kalau kita beryukur, maka kenikmatan itu akan ditambahkan. Subhanllah.

Ilmu Tajarrud dan Tadarruj. "Ilmu Tajarrud adalah teori meninggalkan segala sesuatu yang berhubungan dengan duniawi, dan Tadarruj adalah proses dari suatu kegiatan yang akan berakhir pada sebuah tujuan". Ust. Hasan berpesan, janganlah langsung memaksa dan berharap, agar segera SUKSES, beliau berpesan agar kita jangan terlalu cepat berekspektasi segera sukses dan berhasil dalam menjalani sebuah proses untuk menjadi lebih baik. Kemudian aku mengkorelasikan tafsir Ihdinasshirootol Mustaqiim yang pernah juga disampaikan oleh Cak Nun di Kenduri Cinta, dalam ayat tersebut, kita hanya meminta ditunjukkan jalan yang lurus, tidak pernah kita meminta gol-nya, kita tidak pernah meminta dimana garis finishnya, nikmatilah prosesnya, kalau kita menikmati prosesnya, hasil itu akan menjadi nomor dua. Seperti yang kita pelajari di mahfudot, Man Saaro 'alaa-d-darbi wahola. Barang siapa yang berjalan pada jalannya, maka sampailah ia.

"Ashabul kahfi butuh 309 tahun untuk menuai perubahan hasil dakwah mereka atas kaumnya, Nabi Nuh a.s butuh waktu 900 tahun lebih untuk menikmati hasil dakwahnya, butuh waktu dan proses yang lama". - Kiai Hasan

"Diatas kita hanya Allah swt, bukan SBY, bukan gubernur, bukan bupati", ketika kita melakukan sesuatu, maka motivasinya jangan sampai adalah jabatan kita, tapi kita harus ingat bahwa ada Allah swt diatas kita.

Ditengah tausiyah, Ust. Hasan menyelipkan sedikit Stand Up Comedy. Beliau menunjuk sisi sebelah kiri beliau, yaitu tempat duduk alumni Pondok Gontor Putri, kemudian beliau bertanya, "Saya mau tanya, Bohong itu dosa ya?", serentak dijawab oleh audiens "Dosaaaaaaaa", kemudian beliau mengajukan sebuah pertanyaan, " Kalau didepan sebelah kanan sini ada Nikita Willy, Asmirandah, kemudian disebelah kiri ada Seorang Ustadz, kalian diberi dua pilihan, menuju nikita willy dan asmirandah untuk minta tanda tangan, atau menuju ke Ustadz untuk minta sedikit tausiyah atau cuplikan hadits, jawab dengan Jujur ya!!!??". Seluruh audiens menjadi tertawa, kemudian beliau melanjutkan, "Sebenarnya kalian yang laki-laki juga sama saja, cuma kalian lebih beruntung karena tidak saya tanya... hehehehehe".

"Dunia ini sekarang sudah Lonjong, tugas kita sekarang untuk kembali membuat Dunia ini Bulat". Kalau boleh aku tafsirkan, bahwa menurut beliau, Dunia sudah jauh dari fitrahnya, dan kita harus mengembalikan Dunia ini kepada jalurnya, jangan justru kita ikut-ikutan membuat Dunia semakin melenceng dari fitrahnya.

"Problem penetapan 1 syawwal itu adalah masalah HARGA DIRI, bukan masalah hilalnya, bukan masalah derajat batasan hilal yang menjadi aturannya, tapi HARGA DIRI, dalam satu kampung kalau kiai-nya hanya 1, maka keadaan kampung tersebut akan tentram, semua akan sepakat apa yang disampaikan oleh Kiai dalam menjalankan proses ibadah, tapi jika jumlah kiai semakin banyak, maka keadaan akan semaikn runyam, masayarakat akan dibuat bingung, ini yang diinginkan oleh kaum barat, oleh israel, karena yang paling utama yang tidak mereka inginkan dari umat Islam adalah terwujudnya Ukhuwah Islamiyah".

"Semakin kedepan, yang saya takutkan adalah Ulama yang ditinggalkan oleh ummatnya, karena Ulama sekarang banyak bergelar Ulama Aljaibiyah dengan madzhab pocketisme, yang mereka fikirkan adalah uang yang masuk kedalam kantongnya, bukan Ilmu yang harus mereka ajarkan", beliau menutup tausiyah dengan sebuah pesan, "Jangan sampai kalian menajdi kaki tangan penjajah, sekalipun dalam keadaan terjepit".

Subhanallah, aku merasa baru saja di charge oleh Ust. Hasan dengan tausiyah yang sangat membekas, sangat berkesan. Semoga di lain hari, Allah swt masih memberikan beliau kesempatan untuk dapat memberi tausiyah kepadaku lagi. Aamiin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar